Korban Kanker Meningkat
Tingkatkan Kesadaran dan Investasi Pusat Kanker di Dalam Negeri
[JAKARTA] Penyakit kanker yang selama ini kurang dipedulikan masyarakat, kecenderungannya meningkat dalam dekade terakhir di kawasan Asia, termasuk di Indonesia. Karena itu, masyarakat maupun pemerintah diimbau bisa mencegah dan mendeteksi secara dini penyakit yang mematikan tersebut.
Demikian rangkuman wawancara SP dengan ahli kanker Aru Sudoyo, mantan Menteri Kesehatan Farid Anfasa Moeloek, dan Koordinator Deteksi Awal Kanker Adji Baroto, Rabu (25/4) pagi, di Jakarta.
Mereka mengimbau agar masyarakat sedini mungkin bisa menyadari bahaya kanker tersebut dengan menghindari hal-hal yang menjadi penyebab timbulnya penyakit itu. Selain itu, investasi pusat kanker di dalam negeri juga perlu ditingkatkan.
Seperti dilansir AP, jumlah kasus kanker di Asia akan meningkat dalam 15 tahun ke depan menyusul bertambahnya usia harapan manusia dan gaya hidup. Dalam laporan tersebut diketahui, kanker paru-paru, perut dan liver merupakan kasus yang paling besar dan berat di Asia, diikuti kanker payudara dan usus.
Peningkatan jumlah kasus kanker di Asia diperkirakan bakal melonjak dari 4,5 juta pada 2002 menjadi 7,1 juta pada 2020. Peningkatan kasus kanker itu cukup menonjol pada kanker paru-paru di Asia yang akan mencapai 600.000 kasus per tahun, termasuk di Indonesia.
Menurut Adji Baroto, data penderita kanker di Indonesia dalam enam tahun (1988-1994) mencapai 159.729 orang. Data itu, tuturnya, sudah pasti meningkat dalam periode 2000-2007 ini, namun secara statistik belum terekam secara keseluruhan.
Aru Sudoyo membenarkan, kasus kanker dalam dekade terakhir cenderung meningkat. Di Indonesia, misalnya, khususnya yang ditangani secara patologis oleh RS Kanker Dharmais dalam lima tahun terakhir sangat besar.
Jenis kanker besar yang ditangani rumah sakit tersebut adalah kanker payudara, kanker leher rahim, paru, kelenjar getah bening, kolorektal (usus besar), hati dan kanker ovarium.
Soal penyebab kanker, dia menyebutkan ada berbagai faktor, seperti gaya hidup, obesitas (kegemukan), kebiasaan makanan berminyak, gorengan, termasuk makanan cepat saji.
Akibat Merokok
Penyebab kanker terbesar adalah rokok. Selain sebagai penyebab kanker paru karena diketahui mengandung 200-300 bahan karsinogenik, rokok berperan dalam terjadinya kanker payudara, pankreas, buli-buli, usus besar dan darah (leukemia).
Sementara itu, Farid Anfaza Moeloek mengingatkan, rokok memang merupakan salah satu penyebab kanker. Karena itu, kalau ada kemauan politik ingin menyelamatkan generasi bangsa ini dari bahaya rokok di antaranya kanker, maka pemerintah seharusnya mengatur pembatasan soal tembakau.
Ketua Komisi Nasional Penanggulangan Masalah Merokok (PMM) yang beranggotakan 20 organisasi itu mengingatkan, hendaknya masyarakat secara menyeluruh berhenti merokok. Sekitar 65 persen lelaki Indonesia, tuturnya, adalah perokok.
Kalau dikonversi, sambungnya, jumlah uang yang hilang akibat merokok mencapai triliunan rupiah per tahun. ”Bayangkan, kalau dana triliunan rupiah itu digunakan untuk membeli susu bagi anak-anak dan perbaikan gizi masyarakat, dalam tempo 3-5 bulan saja sudah pasti tidak ada lagi rakyat Indonesia kekurangan gizi,” kata Ketua Consil Kedokteran Indonesia itu.
Secara terpisah Ketua Pokja Pengendalian Tembakau Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Tuti Soerojo mengakui, sulit menyadarkan orang bahwa salah satu penyebab kanker adalah rokok. Tetapi, fakta menunjukkan, empat dari lima penderita kanker paru-paru adalah perokok. ”Rokok mengandung sekitar 4.000 zat berbahaya, 43 di antaranya adalah zat karsinogenik penyebab kanker,” tegasnya.
Adji mengemukakan, rasa takut terhadap kanker membuat masyarakat enggan memeriksakan diri sehingga kanker terdiagnosis pada stadium yang lanjut